Teror Bom Renggut Nyawa Tsar Paling akhir Rusia Dengan Ironis

kabarpentang– Pada 13 Maret 1881, Alexander II di tandatangani perintah membuat beberapa komisi, yang terbagi dalam petinggi serta individu swasta terpenting, untuk menyiapkan reformasi di beberapa cabang pemerintah Rusia.

Sesudah itu, dia hadir Misa bersama dengan Keluarga Tsar, rutinitas yang biasa dikerjakan sehari-hari Minggu.

Sebelum tinggalkan Istana Musim Dingin, istri Alexander meminta kepadanya tidak untuk ikuti rute pulang yang biasa sebab laporan peluang serangan teroris. Sang tsar janji akan kembali pada istana lewat Tanggul Kanal Catherine.

Alexander tinggalkan Istana Musim Dingin serta hadir parade di Sekolah Menunggang Michael dan berkunjung ke sepupunya Grand Duchess Catherine Michaelovna.

Pada saat bertepatan, beberapa konspirator Rusia sudah menempatkan tambang dinamit di terowongan yang digali dibawah rute Tsar yang biasa.

Saat Sophia Perovskaya –salah seseorang revolusionaris komunis– lihat jika Alexander berkunjung ke sepupunya. serta mungkin kembali pada istana dengan memakai rute yang berlainan. Ia juga mengendalikan gagasan baru di selama tanggul Kanal Catherine, rute pilihan yang sangat rasional.

Alexander II mengendarai gerbong anti bom, hadiah dari Kaisar Napoleon III dari Perancis. Waktu kereta kembali ke Tanggul Kanal Catherine, satu bom dilemparkan. Gerbong rusak serta beberapa penjaga terluka, tapi tsar selamat.

Akan tetapi sesudahnya, Alexander II malah membuat kekeliruan yang membuat kehilangan nyawa. Tidak mengerti jika konspirator lainnya bertumpu pada pagar seputar enam kaki jauhnya, ia tinggalkan kereta untuk mengecek rusaknya serta mengecek beberapa orang yang terluka, serta satu bom dilemparkan langsung diantara kaki tsar.

Nada bising dari bom memekakkan telinga, asap penuhi hawa, beberapa orang yang terluka berteriak, serta salju bersimbah darah. Saat asap hilang, Alexander II terbaring terluka kronis, kakinya hancur serta terkoyak karena ledakan bom.

Alexander minta untuk dibawa ke Istana Musim Dingin supaya dia dapat hembuskan napas paling akhir disana.

Situasi Pilu pada Detik-Detik Kematian Alexander II
Saat dengar berita penyerangan bom itu, anggota Keluarga tsar datang di Istana Musim Dingin. Panorama yang menegur mereka suram. Muka serta badan Alexander II masih tetap utuh, tapi kakinya cuma tersisa setinggi lutut.

Ruang mulai ramai saat semakin banyak bagian keluarga datang. Putra sulung Alexander II, Alexander serta istrinya yang datang dari Denmark, Dagmar kenakan baju skating-nya, sebab ia merencanakan untuk bersenang-senang diatas danau yang membeku.

Suami Dagmar berdiri dengan tidak yakin serta putra paling tua mereka, Nicholas yang berumur 13 tahun, berpegangan erat pada sepupu supaya terasa nyaman.

Istri tsar Catherine Dolgorukova (Putri Yurievskaya) lari histeris ke ruang, melemparkan dianya ke badan suaminya, mencium tangannya, serta meraung-raung menyebut namanya.

Saat 45 menit, beberapa orang di ruang itu melihat masa-masa paling akhir Tsar Alexander II bernapas.

Pada jam 15.35 sore, sang tsar wafat, serta saat Keluarga Kekaisaran berlutut untuk berdoa, istrinya tidak sadarkan diri serta dibawa keluar dari kamar, bajunya basah kuyup dengan darah suaminya.

Selain itu, satu hari sebelum ia wafat, Alexander II sudah mengakhiri gagasan untuk membuat parlemen dipilih serta ia punya maksud untuk melepas gagasan ini dalam beberapa waktu.

Dibaca Juga : Malapetaka Pesawat Polish Airlines Renggut Yang diimpikan Juara Petinju Muda AS

Mungkin bila Alexander II masih hidup, Rusia bisa menjadi monarki konstitusional serta akan tidak dibawa ke bawah naungan sosialis.

Akan tetapi, putra serta penerus Alexander II, Alexander III begitu konservatif serta mengubah beberapa reformasi liberal ayahnya.

Salah satunya perihal pertama yang ia kerjakan menjadi tsar ialah merobek gagasan ayahnya untuk membuat parlemen dipilih, serta menggagalkan perintah yang sudah di tandatangani ayahnya di hari ia wafat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*