Obat-obatan Palsu Sudah Membunuh Lebih dari 250.000 Anak di Semua Dunia

kabarpentang – Beberapa dokter mengatakan usaha internasional yang menekan untuk memerangi “pandemi obat-obatan jelek”, yang diprediksikan sudah membunuh beberapa ratus ribu orang dengan global tiap-tiap tahun.

Lonjakan obat-obatan palsu serta berkualitas jelek bermakna jika 250.000 anak per tahun diprediksikan wafat sesudah terima serta mengkonsumsinya, yang cuma ditujukan untuk menyembuhkan malaria serta pneumonia saja, beberapa dokter mengingatkan.

Mengenai anak-anak yang wafat, semakin banyak karena disebabkan vaksin serta antibiotik palsu yang dipakai untuk menyembuhkan atau menahan infeksi kronis serta penyakit seperti hepatitis, demam kuning, serta meningitis.

Sejumlah besar kematian berlangsung di beberapa negara dimana keinginan obat yang tinggi digabungkan dengan pengawasan yang jelek, kontrol kualitas serta ketentuan untuk mempermudah geng serta kartel kriminil menyelinap ke pasar.

“Sering mereka cuma melawan denda atau hukuman mudah bila tertangkap,” kata Joel Breman, seseorang ilmuwan emeritus di Institut Kesehatan Nasional AS.

Tes pada obat-obatan di lapangan sudah mengidentifikasi salinan palsu serta tidak efisien dari sebagian besar obat-obatan, termasuk juga antimalaria, antibiotik, dan obat-obatan kardiovaskular serta kanker.

Banyak pemalsuan datang dari China serta India, dimana sering diketemukan memiliki kandungan semuanya, dari mulai tinta printer serta cat sampai arsenik.

“Obat-obatan pola hidup, seperti obat pembangkit syahwat, menguasai pasar untuk obat-obatan palsu,” tutur Breman.

Di luar pemalsuan yang dibikin serta di jual oleh geng kriminil ialah obat-obatan berkualitas jelek dengan bahan aktif yang kurang untuk kerja dengan baik, atau tidak berhasil larut saat diminum.

Condong Berlangsung di Negara-Negara Berpendapatan Rendah

Di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, dokter dari pemerintah AS, kampus, rumah sakit serta perusahaan farmasi Pfizer mengingatkan jika kenaikan “obat-obatan yang dipalsukan serta dibawah standard” sudah jadi “darurat kesehatan penduduk”.

Diatas kerugian langsung yang mereka sebabkan, obat-obatan yang jelek ialah pendorong penting resistensi antimikroba, yang menyebabkan timbulnya superbug. “Ini ialah permasalahan kesehatan penduduk yang menekan serta kami butuh ambil aksi,” kata Breman.

Sampai 10 % dari obat-obatan di beberapa negara berpendapatan rendah serta menengah ialah kualitas yang jelek atau palsu.

Dalam rangkaian referensi, beberapa dokter mengatakan suport yang semakin besar untuk program pengawasan obat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta pembaharuan untuk arah pembangunan berkepanjangan PBB, dimana pemerintah akan pastikan sekurang-kurangnya 90 % dari obat-obatan di negara mereka berkualitas bagus.

Register obat palsu yang diketemukan di lapangan harus juga dibikin terbuka untuk umum, kata beberapa dokter.

Referensi lainnya ialah untuk kesepakatan global mengenai kualitas obat, serta mengambil keputusan kesepakatan ekstradisi hingga terduga bisa melawan persidangan di negara yang mereka targetkan.

Dibaca Juga : PBSI Meminta Sukses Ahsan / Hendra di All England Tidak Membuat Pemain Terbuai

Kesepakatan seperti itu akan meliputi apotek daring ilegal, yang menurut dokter adalah sisi dari permasalahan yang makin bertambah.

Breman menjelaskan komune internasional serta perusahaan farmasi mesti tingkatkan keamanan rantai supply obat di semua negara dari titik produksi sampai pasien.

“Ada keperluan menekan untuk tes simpel serta cepat yang bisa dipakai dokter untuk memverifikasi kualitas obat,” imbuhnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*